jualan

jualan

SELAMAT DATANG DI BLOGGER MATERIAL & E-BOOK

Selamat datang rekan-rekan blogger dan pemerhati bidang material dan logam.
Website ini berisi semua hal yang berhubungan dengan material dan logam. Saya menyediakan informasi E-book khusus material dan logam yang cocok bagi para mahasiswa, dosen,peneliti dan pemerhati.

Khususnya rekan-rekan yang bekerja di Industri, riset dan development yang berhubungan dengan produk logam dan manufaktur serta korosi jika ada troubleshooting atau masalahteknis "Jangan segan-segan" untuk kontak saya.


Mohon melalui kontak e-mail saja, Insya Allah akan direspons

Dr. Eng. Gadang Priyotomo, ST, M.Si.
(Peneliti Material & Korosi)
Puslit Metalurgi dan Material (P2M2) -LIPI
Kawasan PUSPIPTEK Gd.474 Serpong Tangerang Selatan Banten Indonesia
HP. 0858-8863-6002
Pin. BB : 7ED20F5E

E-mail : gadangp@gmail.com atau onlinemtrl@gmail.com


Selasa, 30 Desember 2008

SELAMAT TAHUN BARU TAHUN

Saya sebagai moderator blog "Logam dan E-book" mengucapkan selamat tahun baru masehi tahun 2009 dan tahun baru islam 1 Muharram 1430 H.
Semoga tahun yang baru memberikan semangat hidup dalam memperoleh tujuan hidup yang lebih baik.

Terima kasih

Moderator

Minggu, 21 Desember 2008

Failure analysis (Karakterisasi Kualitatif Akibat Korosi Lingkungan Pada Komponen Jerusi Motor Berbasis Logam AISI 1035 di lapis seng

Karakterisasi Kualitatif Akibat Korosi Lingkungan Pada Komponen Jerusi Motor Berbasis Logam AISI 1035 Dilapis Seng

Gadang Priyotomo
Pusat Penelitian Metalurgi-LIPI
Kawasan PUSPIPTEK Gd.474 Serpong Tangerang

( Tulisan ini belum dipublikasikan)

----------------------------------------------------------------------------------------------------
Intisari
Jeruji terbuat dari galzanized steel dengan subtrak baja AISI 1035. Proses korosi terjadi saat proses distribusi komponen melalui jalur laut. Faktor Lingkungan ekstrim air laut dan proses manufaktur sebagai penyebab utama kerusakaan. Indikasi kerusakan di permukaan sampel uji secara kualitatif melalui pengujian Electron Probe Microanalzer (EPMA). Data kurva komposisi unsur di permukaan sampel rusak mengandung empat unsur yang terkandung di lingkungan laut antara lain unsur klorida (intensitas 919), kalsium (intensitas 828), sulfur (intensitas 820), dan potasium (intensium 1607). sampel yang tidang berkarat juga mengandung ion Cl. Kerapatan distribusi ion Cl (intensitas 112) cukup tinggi.

Kata kunci : Korosi, Jeruji, Air laut, EPMA, baja galvanisasi

Abstract
Spoke is made by galvanized steel by using low carbon steel of AISI 1035. Corrosion process occurred at distribution process of parts. The factor of extreme environment for seawater and manufacturing process are as the main problem of failure. The indication of failure on corroded sample is tested qualitatively by the test of Electron Probe Microanalyzer (EPMA). The curve data of element composition on corroded surface sample contain three major elements that represent seawater environment. Three major elements are chloride (intensity of 919), calcium (intensity of 828), sulfur (intensity of 820) and potassium (intensity of 1607). The sample that no rust contains Cl ion. The distribution of clean sample contain of Cl. the distribution of density for Cl ion (intensity of 112) is enough high.

Keyword : Corrosion, spoke, seawater, EPMA, galvanized steel.

Catatan :
Jika ingin tulisan saya lengkap dan berdiskusi silahkan kirim email : gada001@lipi.go.id


Kamis, 18 Desember 2008

THE INFLUENCE OF VARIOUS SENSITIZING TEMPERATURES FOR STRESS CORROSION CRACKING OF AISI 304 IN 42 Wt% MgCl2 MEDIUM

THE INFLUENCE OF VARIOUS SENSITIZING
TEMPERATURES FOR STRESS CORROSION CRACKING OF AISI 304 IN 42 Wt% MgCl2 MEDIUM



Gadang Priyotomo
Research Center for Metallurgy – Indonesian Institute of Sciences Kawasan PUSPIPTEK Gd.470 Serpong Tangerang Banten Indonesia 15314

(This paper is still edited by editor board of National Journal of corrosion (majalah KOROSI) Vol.17 No.2 October 2008 from Research Center for Metallurgy -Indonesian Institute of Sciences )

(All figures and tables are not shown in this paper)



Abstract
The change in the mechanism for SCC on AISI 304 austenitic stainless steel was investigated in 42wt% saturated magnesium chloride solution at 106 0C by using a constant load method. The solution-annealed specimens were applied under constant load of 30.5 Kg/mm2 and 40 Kg/mm2. The non-solution annealed specimens were applied under constant load of 20 Kg/mm2 and 25 Kg/mm2. All experiments were done under an open circuit condition. The most of fracture shape in non-annealed type 304 at various sensitizing temperature (6000C, 7000C, 8000C) is intergranular. All fracture shape in annealed type 304 at various sensitizing temperature is trangranular. The deformation can be easy to move by growing grains in annealed type 304 so that it can be predicted by decreasing Vickers hardness value. In non-annealed type 304, the deformation can be sustained because of the small size of grains. The role of  martensite mechanism in non-annealed type 304 significantly contribute to suffer the forming of fracture in MgCl2 solution at 1060C especially in grain boundaries. In annealed type 304, mechanism of fracture can be associated by deformation through slip plane in grains.

Keyword : Stress corrosion cracking, a constant load, sensitizing temperature, intergranular, transgranular

Intisari
Perubahan mekanisme korosi retak tegang material baja tahan karat austenitik AISI 304 telah dilakukan larutan magnesium klorida 42Wt% pada suhu 1060C dengan menggunakan metode beban statis. Sampel hasil anil diberi beban 30,5 kg/mm2 dan 40 kg/mm2. Sampel non-anil diberi beban 20 Kg/mm2 dan 25 kg/mm2. Semua pengujian dilakukan pada kondisi sirkuit terbuka. Hampir semua bentuk patahan material 304 non-anil di berbagai variasi temperatur sensitasi(6000C, 7000C, 8000C) adalah intergranular. Semua bentuk patahan material 304 anil di berbagai variasi suhu sensitasi adalah transgranular. Deformasi dapat mudah bergerak melalui pertumbuhan butir pada material 304 anil sehingga dapat diprediksi melalui penurunan nilai kekerasan vickers. Pada material 304 non-anil, deformasi dapat ditahan karena ukuran butir-butir kecil. Peranan mekanisme  martensit material 304 non-anil secara signifikan berkontribusi to memperparah pembentukan patahan di dalam larutan MgCl2 di suhu 1060C khususnya di batas butir. Pada material 304 anil, mekanisme patahan dihubungkan dengan deformasi melalui bidang slip di dalam butiran.

Kata kunci : korosi retak tegang, beban konstan, temperatur sensitasi, antar butir, transgranular.




1. Introduction
Generally, austenitic stainless steels are susceptible for Stress Corrosion Cracking (SCC). The SCC of them (type 316 and type 304) was extensively investigated as functions of applied stress (σ), sensitizing temperature, sensitizing time, applied potential and environmental factors ( inhibitor, sensitizing time, pH, anion concentration, anion species and test temperature) by using a constant load method [1]. The change in the mechanism for SCC on AISI 304 austenitic stainless steel was investigated in 42wt% boiling saturated magnesium chloride solution by using a constant load method. Three parameters (time to failure; tf steady-state elongation rate ; iss and transition time at which a linear increase in elongation to deviate; tss) obtained from the corrosion elongation curve showed three regions ; stress – dominated, stress corrosion cracking dominated and corrosion – dominated regions [2]. AISI 304 are prone to microstructural changes when exposed to sensitization temperatures due to heat treatment. Precipitation of chromium carbide takes place along the grain boundary regions in the temperature range of 4800C to 8150C. These results in chromium depletion near the grain boundary, and the resultant grain –boundary region is susceptible to intergranular corrosion (IGC)[3]. The extent of which depends upon the degree of sensitization. The Cr depletion zone, while the Cr carbide would serve as an barrier of dislocation movement [4]. Nishimura demonstrated that the most severe SCC susceptibility took place at a sensitizing temperature of ~931 K (6600C) in hydrochloric acid solution[5]. Deformation of metastable austenite phase involves the formation of strain –induced ε α’-martensite[6]. Austenitic stainless steel can undergo phase transformation due to applied stress or hydrogen charging.
The objectives of this paper are: (1) to investigate the effect of sensitizing temperature on the susceptibility of austenitic stainless steels to stress corrosion cracking, (2) to evaluate tf and iss for type AISI stainless steels in 42wt% magnesium chloride solutions at temperature of 380K, and (3) to determine the cracking mechanism for austenitic stainless steels in 42wt% boiling magnesium chloride solutions at temperature of 380K.

2. Experimental
The specimens used were the type 304 austenitic stainless steel whose chemical compositions (wt%) are shown in Table 1. As shown in Fig. 1, the geometry for stress corrosion cracking experiments is as follows: the gauge length is 25.6 mm, the width 5 mm and the thickness 1 mm[7]. The specimens were solution-annealed at 1373 K (11000C) for 1 hour under an argon atmosphere and the water-quenched. The other specimens were conducted solution annealing process. Both of specimens (with or without solutions annealing process) were annealed with various sensitizing temperatures (6000C, 7000C, 8000C). Prior to main experiments, the specimens (with and without solutions annealing process) were polished to 1000 grit emery paper, degreased with acetone in a ultrasonic cleaner apparatus and washed with distilled water. After that the specimens were set into SCC cell.

Table 1.Chemical Compositions (wt%) of the type 304 austenitic stainless steel used
C Si Mn P S Ni Cr Mo
0.042 0.713 1.13 0.0297 0.008 7,92 18.309 --




Fig.1. Geometry of SCC Specimens (dimensions in mm)

SCC test were conducted in 42wt % Magnesium Chloride solution at 379K (1060C). The solution-annealed specimens were applied under constant load of 30.5 Kg/mm2 and 40 kg/mm2. The non-solution annealed specimens were applied under constant load of 20 kg/mm2 and 25 kg/mm2. All experiments were done under an open circuit condition.




Fig 2. a lever-type constant load apparatus

As Shown in Fig 2. A lever-type constant load apparatus (lever ratio 1:10) to which three specimens can be separately and simultaneously attached was used with a water cooling system on the top of a testing cell to avoid evaporation of the solution during the experiments. The specimens were insulated from rod and grip by alumina fibers. Elongation of the specimens under a constant load was measured by an inductive linear transducer with an accuracy of ±0.01 mm. The other supporting tests are Vickers hardness and oxalic acid etch test for classification of etch structures of austenitic stainless steel according to ASTM A262-02a.


3. Results & Discussion
3.1. Dependence of sensitizing temperatures and hardness property

Table 2 shows the Vickers hardness of type 304 at various sensitizing temperatures. Generally, Vickers hardness values of the type 304 without solution annealing process are higher than without solution annealing. Fig 3 shows the behavior of Vickers hardness at various sensitizing temperatures. The type 304 without sensitizing process that has the highest hardness values of 232.27 Hv. This material undergoes the decreasing of hardness value when heated from 6000C to 8000C. The same behavior is happen on the type 304 with sensitizing process.



Table 2. Vickers hardness of type 304 at various sensitizing temperatures
Sensitizing temperature
(celcius) Vickers Hardness (Hv)
Solution annealing Without Solution annealing
600 219.33 209.3
700 152.06 199.1
800 162.72 205.33


Fig.3. Curve of relationship between Vickers hardness and sensitizing temperatures

Both solution or without solution annealing process undergo a decadent hardness drastically at 7000C after that increase at 8000C. The lowest hardness value is 152.06 Hv on type 304 with solution annealing process. Susceptibility to intergranular attack associated with the precipitation of chromium carbides is readily detected in oxalic acid of electrolytic etches. Metallographic etching based on ASTM A-262 was conducted. Photomicrographs were obtained by using optical microscope. The microstructures that acquired were classified into three types: Ditch structure with one or more grains surrounded fully, step structure without ditches at grain boundaries and dual structure with several ditches at grain boundaries.









Fig. 4. microstructure appearances for type 304 steel after solution annealing 1373K (a) no annealing for sensitizing condition (b) annealing for sensitization at 6000C, (c) annealing for sensitization at 7000C, (d) annealing for sensitization at 8000C

Fig. 4 shows the kind of microstructures that depends on the influence of sensitizing temperature. Full ditch structures appear that surround grains at 7000C and 8000C. When associating the Vickers hardness of annealed 304, α’-martensite phase does not exist both grains and grain boundaries.





Fig. 5. microstructure appearances for original type 304 steel (a) no annealing for sensitizing condition (b) no annealing for sensitization at 6000C, (c) no annealing for sensitization at 7000C, (d) no annealing for sensitization at 8000C

Fig. 5 shows the difference of microstructures among the kinds of annealing temperature. The transformation of  (austenite) become the phase combination between  - ’martensite that was appeared. The formation of strain-induced alpha'-martensite significantly affects the mechanical behavior austenitic stainless steels by enhancing work hardening[6]. This statement can be associated with the difference of Vickers hardness value between non-annealed 304 and annealed 304. For overall reason, the number of Vickers hardness of non-annealed 304 is higher than annealed 304. These can be preliminary indicated that non-annealed 304 is susceptible for cracking.

3.2 A parameter for predicting time to failure from Corrosion Elongation curve

3.2.1. Non-annealed type 304

Fig.6 shows the corrosion elongation curves for non-annealed type 304 steel at 1060C under a constant applied stress condition (L=30,5 kg/mm2) in magnesium chloride solution at various annealing temperatures. From these curves the three parameters were obtained for the each specimen: the time to failure (tf), the steady-state elongation rate (Iss) for the straight part of corrosion elongation curve and ratio of transition time to time to failure (tss/tf). These parameters are shown in Table 2.

Table 2. The variation of sensitizing temperatures, failure time, and elongation rate

No Sensitizing temperatures (0C) iss (mm/s) tss (s) tf (s)
1 600 3,00E-08 60428 86400
2 700 2,00E-06 18674 25450
3 800 7,00E-07 51388 55880

The lowest failure time (tf) at 7000C is 25450 seconds. The highest failure time at 6000C is 86400 seconds. The fastest steady-state elongation rate at 7000C is 2 x 10-6 mm/s. The slowest elongation rate at 6000C is 3 x 10-8 mm/s. The lowest failure time at 7000C can be identified as the critical cracking time if this is compared with mechanical property especially hardness value.



Fig. 6. Corrosion elongation curves for type 304 steel at 1060C under a constant applied stress condition (L= 30,5 Kg/mm2 ) in MgCl2 solutions.

Generally, the increasing of applied load from 30, 5 Kg/mm2 to 40 Kg/mm2 significantly can reduce time to failure at various sensitizing temperatures that are shown in Table 3.

Table 3. The variation of sensitizing temperatures, failure time, and elongation rate
Sensitizing temperature (oC) tf (s) Iss (mm/s) Tss (s)
600 31387 3,00E-07 30564
700 8348 4,00E-05 5990
800 45484 2,00E-07 42198


Fig 7 shows the differences among tf, iss, and tss. The highest steady-state elongation rate at 7000C is 4.10-5 mm/s but the lowest elongation rate at 2.10-7 mm/s. The fastest time to failure at 7000C is 5990 seconds, on the contrary, the slowest time to failure at 42198 seconds.



Fig. 7. Corrosion elongation curves for type 304 steel at 1060C under a constant applied stress condition (L= 40 kg/mm2 ) in MgCl2 solutions.

Both 30, 5 kg/mm2 and 40 kg/mm2 almost have the same tendency at 7000C related to time to failure. These loads could contribute to decrease tf. Nishimura et al demonstrated that the most severe SCC susceptibility took place at a sensitizing temperature of ~931 K (6600C) in hydrochloric acid solution. In Magnesium chloride solution, this phenomenon seldom has been observed in all kinds of previous scientific papers.

3.2.2. Annealed type 304

The commercial types 304 commonly have undergone work hardening. The transformation sequence during work hardening has been found to be  (austenite)--’martensite. In order to change to be full austenite phase, the heat treatment was conducted at 1373 K. The other reason why it was conducted is to minimize ’martensite phase as the one of initial cracking site.The Table 4 shows how three parameters can influence the mechanical behavior of annealed type 304 under a constant load at 25 kg/mm2 in 42 wt% MgCl2 solution.

Table 4. The variation of sensitizing temperatures, failure time, and elongation rate
Sensitizing temperature (oC) tf (s) Iss (mm/s) Tss (s)
600 53128 2,00E-06 48326
700 3 4,80E+00 -
800 8459 5,00E-05 4763

Fig 8(a),(b) shows corrosion elongation curves which explain the prediction of time to failure. The highest elongation rate at 7000C is 4,8 mm/s but the lowest elongation rate at 6000C is 5.10-5 mm/s. The shortest time to failure at 7000C is 3 seconds; on the contrary, the longest time to failure at 6000C is 53128 seconds.





Fig. 8. Corrosion elongation curves for annealed type 304 steel at 1060C under a constant applied stress condition (L= 25 Kg/mm2 ) in MgCl2 solutions.

The critical sensitizing temperature of annealed type 304 is the same behavior as non-annealed type 304 at 7000C (973 K). Both of them have a tendency to decrease mechanical property and to be susceptible for cracking. The table 5 shows the relationship among three parameters in order to predict the behavior of annealed type 304 at 20 kg/mm2

Table 5. The variation of sensitizing temperatures, failure time, and elongation rate
Sensitizing temperature (oC) tf (s) Iss (mm/s) Tss (s)
600 45103 9,00E-07 39005
700 5 2,25E+00 0
800 42006 4,00E-07 36625

Fig 9(a),(b) show corrosion elongation curves which explain three the prediction of time to failure. The highest elongation rate at 7000C is 2,25 mm/s but the lowest elongation rate at 6000C is 4.10-5 mm/s. The shortest time to failure at 7000C is 5 seconds; on the contrary, the longest time to failure at 6000C is 45103 seconds.



Fig. 9. Corrosion elongation curves for annealed type 304 steel at 1060C under a constant applied stress condition (L= 20 Kg/ mm2 ) in MgCl2 solutions.

Although a constant load was increased from 20 kg/mm2 to 25 kg/mm2. The behavior of time to failure value at 7000C is the same. At 7000C, the reason why time to failure values at annealed type 304 are faster than non-annealed one is the existence of ’ martensite and chromium carbide.

3.3 Fracture appearance

The scanning electron microscopy photographs for the fracture surface appearance for the austenitic stainless steels in magnesium chloride solution at 1060C were investigated. Fig. 10 and 11 show the fracture surface appearances of type non-annealed 304. They showed that the cracking mode for non-annealed type 304 were transgranular and intergranular.




Fig. 10. The fracture surface on type 304 at L = 30,5 Kg/mm2 (a) Transgranular cracking for non-annealed type 304 at T = 6000C,(b) intergranular cracking for non-annealed type 304 at T = 7000C, and (c) intergranular for non-annealed type 304 at T = 8000C.








Fig. 11. The fracture surface on type 304 at L = 40 Kg/mm2 (a) Transgranular cracking for non-annealed type 304 at T = 6000C,(b) intergranular cracking for non-annealed type 304 at T = 7000C, and (c) intergranular for non-annealed type 304 at T = 8000C.


At 6000C (873 K) non-annealed type 304 appears transgranular crack. This cracking direction tears along grains. Many voids were distributed on the fracture surface appearance. These voids were an initial void coalescence to make dimples. At 7000C and 8000C both of them have the same cracking mode. The shape of fracture mode is intergranular crack. This fracture mode can be explained by the existence of carbide chromium approach and ’ martensite in grain boundaries. The existence of carbide chromium can create the weakness region in grain boundaries. The concentration of chromium near grain boundaries is lower than its concentration in grains. The theory of dissolution in depleted chromium zone can be associated by appearing many voids in near grain boundaries. The appearance of ’ martensite significantly could be considering to create these kinds of fracture. Nishimura et.al said that for metastable austenitic steels like type 304, the strain induced martensite along the grain boundaries will enhance the hydrogen permeation. Martensite structure has a very high diffusity coefficient and very small hydrogen content compared to those of austenite steel. This behavior can be explained by the material’s high content chromium like type 304 that is a natural inhabitant of martensite transformation. This reason can be reference why type 304 is susceptible to Stress Corrosion Cracking (SCC)
The scanning electron microscopy photographs for the fracture surface appearance for the austenitic stainless steels in magnesium chloride solution at 1060C were investigated in a constant load (20 kg/mm2, 25 kg/mm2). Fig. 12 and 13 show the fracture surface appearances of type non-annealed 304. They showed that the cracking mode for annealed type 304 was transgranular at various sensitizing temperatures. This type of fracture occurs through or across a crystal or grain. The approach of mechanism of trangranular fracture can be correlated to void coalescence Once the void forms, the connecting material continues to deform by slip, allowing the voids to expand until they begin to connect. This fracture mechanism develops a fracture topography consisting of cups an each fracture surface. a such surface is called dimple.






Fig. 12. The fracture surface on type 304 at L = 25 Kg/mm2 (a) Transgranular cracking for annealed type 304 at T = 6000C,(b) intergranular cracking for annealed type 304 at T = 7000C, and (c) transgranular for annealed type 304 at T = 8000C.






Fig. 13. The fracture surface on type 304 at L = 20 Kg/mm2 (a) Transgranular cracking for annealed type 304 at T = 6000C,(b) intergranular cracking for annealed type 304 at T = 7000C, and (c) transgranular for annealed type 304 at T = 8000C.

The type of dimple in all fracture surfaces at various sensitizing temperatures and a constant load (L = 20 Kg/mm2 & 25 Kg/mm2) is equiaxed dimple. in tension, equiaxed dimples are formed on both fracture surfaces. The size of grains on annealed type 304 is bigger than non-annealed one. This main reason can be associated to hardness value. Over 25 Kg/mm2 a constant load test was failed to hold annealed type 304 from rapid fracture because of above its yield stress. The deformation of materials will be easy to move if the size of their grains is large. The existence of void in grains makes material suffer to contribute the deformation by moving through slip plane.


4. Conclusion
The following conclusions can be drawn from this work:

1. Using a constant load method, the effect of sensitizing temperature on stress corrosion cracking of austenitic stainless steels can be evaluated. The most of fracture shape in non-annealed type 304 at various sensitizing temperature is intergranular. All fracture shape in annealed type 304 at various sensitizing temperature is trangranular.
2. The role of  martensite mechanism in non-annealed type 304 significantly contribute to suffer fracture in MgCl2 solution at 1060C especially in grain boundaries. In annealed type 304, mechanism of fracture can be associated by deformation through slip plane in grains.
3. The deformation can be easy to move by growing grains in annealed type 304 so that it can be predicted by decreasing Vickers hardness value. In non-annealed type 304, the deformation can be sustained because of the small size of grains.
4. The role of carbide metal forming can be considered to suffer the fracture of material.
5. At 7000C, the reason why time to failure (tf) at annealed type 304 are faster than non-annealed is the existence of ’ martensite and chromium carbide

5. References
[1] Rokuro Nishimura, Characterization and perspective of stress corrosion cracking of austenitic stainless steels (type 304 and type 316) in acid solutions using constant load method, Corrosion Science 49 (2007) 81–91
[2] O.Alyousif, R.Nishimura, The stress corrosion cracking behavior of austenitic stainless steels in boiling magnesium chloride solutions, Corrosion Science 49 (2007) 3040–3051
[3] Raghuvir Singh; B Ravikumar; A Kumar; P K Dey; I Chattoraj, The effects of cold working on sensitization and intergranular corrosion behaviour of AISI 304 Stainless Steel, Metallurgical and Materials Transactions; Nov 2003; 34A, 11; Academic Research Library pg. 2441
[4] G.E.Dieter, Mechanical Metallurgy. 2nd ed, McGraw-Hill 1976 p.195
[5] R Nishimura; I Katim; Y Maeda, Stress corrosion cracking of sensitized type 304 stainless steel in hydrochloric acid solutions- Predicting Time to failure and Effect of sensitizing Temperature, Corrosion; Oct 2001; 57, 10; ProQuest Science Journals.pg. 853
[6] Juho Talonen, Metallurgical and Materials Transactions; Feb 2005; 36A, 2; Academic Research Library pg. 421
[7] O,Alyousif,R.Nishimura, Corrosion Science 49 (2007) pg.3041

Rabu, 10 Desember 2008

Kerusakan baja lapis seng akibat lingkungan garam

Logam seng mempunyai karakteristik untuk melindungi produk besi dan baja. Ketahanan korosi yang baik disetiap lingkungan memberikan nilai tambah dalam aplikasi luar. Kelebihan perfoma dari lapis seng antara lain kemampuan membentuk film produk yang kuat di permukaan dan lau korosi yang rendah 10 - 100 kali dibanding produk ferrous tergantung dari lingkungannya.

Aplikasi baja lapis seng digunakan secara luas oleh masyarakat khususnya di bidang infrastruktur. Namun kita harus menyadari bahwa penempatan komponen disuatu tempat harus diperhatikan. Apakah lapisan seng tahan terhadap lingkungan garam berion (Cl-) yang ber pH netral ( 6-7).Saya memberikan suatu contoh sederhana di lingkungan garam berkabut (NaCl) 3mass% selama waktu ekspos 6 jam terlihat pada Gambar 1. Gambar ini menunjukan adanya keretakan lapisan seng dengan lebar retak 3 - 5 mikron . Permukaan lapisan seng tertutupi oleh kristal-kristal garam (NaCl) dan campuran unsur Zn, Fe, O, Cl. Daerah antara retakan-retakan memiliki kepadatan sebaran Fe. Ini mengindikasikan antara lapisan seng dan base metal (Fe) telah terlepas. Metode "mapping area" di dalam alat Scanning Electron Microscope dapat memberikan view jelas dari sebaran unsur-unsur yang melekat di permukaan logam.

Teori yang menjelaskan mekanisme ini memang tidak menjelaskan secara jelas. Teori pelarutan lapisan seng akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungan agresif umunya lingkungan berion klorida bisa di jelaskan namun parameter kerusakan lapisan akibat proses pembuatan juga bisa dipertimbangkan misalnya tergores, proses pelapisan, ketidakmerataan ketebalan lapisan.


(Gambar 1. distribusi sebaran unsur - unsur di permukaan sampel dengan SEM-EDS, Sumber : Data anak bimbingan skripsi mahasiswa S1 )

Penjelasan lebih lanjut dapat ditanya di e-mail dan HP saya.

Terima kasih

Minggu, 23 November 2008

Tunjangan Peneliti diusulkan naik secara signifikan

Insentif Penelitian

Tunjangan Professor Riset diusulkan naik 10 kali lipat

Sumber : Kompas, Sabtu, 22 November 2008 hal 14


Tunjangan peneliti berdasarkan usulan yang diajukan kepala lembaga Ilmu pengentahuan Indonesia kepada Menteri keuangan naik 10 kali lipat. Untuk peneliti pertama dari Rp.350.000,- akan naik menjadi Rp.5 juta. Adapun peneliti muda dan madya masing-masing menjadi Rp.8,5 juta dan Rp.12 juta. Peneliti utama atau professor riset dari semula Rp 1,4 juta diusulkan naik menjadi Rp.14 juta atau naik 10 kali lipat


Dijelaskan wakil kepala LIPI Lukman Hakim ,Jumat (21/11), kenaikan tunjangan peneliti ini diajukan berdasarkan peraturan presiden Nomor 30 Tahun 2007 yang mulai berlaku per 1 janauari 2009.


Ditegaskan Presiden

Kepedulian pemerintah pada kesehjateraan peneliti, ujar Menteri Negara Riset dan Teknoilogi Kusmayanto Kadiman, dikemukakan presiden RI pada Hari Kebangkitan teknologi nasional Agustus lalu di istana Negara. Ketka itu presiden mengatakan telah memerintahkan , Menkeu , Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Negara Riset dan Teknologi, serta menteri Pendidikan Nasional untuk merealisasikannya. Selain itu, pada pidato di Sidang Paripurna DPR, JUmat (15/8), Presiden juga menyebutkan pentingnya menaikan kesehjateraan peneliti.


Lukman mengatakan, pada tahun 1983 tunjangan Ahli Peneliti Utama (APU) sebesar Rp.900.000,- dua kali lipat tunjangan pejabat eselon I. Namun kini, tunjangan APU hanya naik jadi Rp.1,4 juta, sedangkan eselon I telah menjadi Rp.5,5 juta. Kondisi ini mendorong penelti menjalani pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan tidak sedikit yang keluar atau bekerja di perusahaan swasta.


Dorongan peneliti untuk bekerja di luar negeri juga kian besar, terutama di Malaysia dan Singapura, yang menjanjikan fasilitas riset dan gaji yang besar. Di Malaysia, tunjangan peneliti pertama senilai Rp.8 juta per bulan. Di Pakistan, Gaji peneliti beberapa kali lipat gaji menteri.(YUN)


Tanggapan :


Artikel di atas memberikan angin segar dan harapan bagi para peneliti untuk pemerintah di Indonesia. Selama ini, tunjangan peneliti memang belum bisa memenuhi secara “minimum basic need” untuk keluarga sehingga bukan “rahasia umum” lagi kalau peneliti – peneliti sebagai kaum intelektual dan garda depan untuk pengembangan ilmu dan pengetahuan Indonesia terpaksa harus berkutat untuk bekerja sampingan. Saya mengerti sekali kondisi ini karena saya juga peneliti. Saya merasakan bahwa penelti adalah jabatan “profesi” yang bekerja secara professional sesuai keilmuan dan kepakaran masing-masing seperti jabatan Dokter, pengacara, hakim, suster, dan sebagainya. Disatu sisi para peneliti harus mengedepankan profesionalisme dalam bekerja, namun disisi lain kebutuhan dasar mereka juga harus diperhatikan dan dipenuhi sesuai tingkat jabatan peneliti.


Namun tidak semua peneliti bernasib seperti itu, ada juga peneliti yang bisa mengembangkan hasil penelitian dan dapat diterima oleh pangsa pasar atau kerjasama dengan pihak luar negeri sehingga mereka mendapatkan konpensasi. Memang kita menyadari bahwa anggaran untuk riset sangat kecil dibandingkan negara-negara tetangga kita. Sehingga jangan heran bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan riset jauh-jauh tertingga dengan Negara asia seperti Malaysia, Pakistan, India dan sebagainya.


Coba anda bayangkan, jika anda sebagai peneliti yang sedang bekerja di suatu laboratorium harus “direcokin” dengan kebutuhan dasar hidup. Apalagi biaya pendidikan anak-anaknya semakin mahal, jangan heran kalau ada para peneliti terpaksa harus “menggadaikan Surat Keputusan (SK) Pengangkatan” untuk meminjam uang ke bank atau hidup dengan metode “buka dan tutup lubang” diberbagai tempat demi menyambung hidup. Mereka harus berkerja sampingan untuk menutupi kebutuhan hidup. Kadang mereka bekerja sesuai kepakarannya namun bersifat “swasta” atau diluar kepakarannya.


Mereka hidup didua alam diantara “keprofesionalisme profesi” atau “kebutuhan dasar hidup”. Jarang para professional peneliti terlibat dari unsur korupsi atau plagiat karena telah mempunyai kode etik profesi. Mereka murni bekerja atas dasar keingintahuan dari suatu fenomena disekitar sehingga dapat menciptakan atau juga memberikan solusi pasti masalah-masalah di masyarakat. Maka sangat disayangkan kalau para kaum intelektual ini yang berpendidikan S1, S2, S3 atau post doctoral program harus berputar otak bagaimana memenuhi kebutuhan dasar hidup keluarga selain salary utama di kantornya.


That’s the fact of life, my friends…….We must realize it

Minggu, 16 November 2008

Seminar GRATIS bidang Material Metalurgi di P2M-LIPI

Tema Seminar
“Penguatan Riset Material Metalurgi Menuju Kemandirian Teknologi”
Pendahuluan

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dalam bentuk mineral. Sumber daya mineral ini merupakan bahan baku yang penting baik secara langsung maupun tidak langsung bagi berbagai macam industri seperti manufaktur, transportasi, elektronik dan lain-lain. Hal ini memberikan peluang bagi munculnya berbagai industri dari industri hulu sampai industri hilir. Akan tetapi kenyataan menunjukkan bahwa sampai saat ini sebagian besar industri yang terkait bidang material dan metalurgi di Indonesia masih memiliki ketergantungan teknologi dari pihak asing.

Mengupayakan kemandirian teknologi bagi industri nasional merupakan tugas berat yang harus diemban bersama oleh departemen teknis terkait, perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan juga pihak swasta. Dengan latar belakang di atas, sudah selayaknyalah bagi para peneliti di bidang material dan metalurgi untuk mengambil bagian dalam tugas berat ini dengan menitikberatkan penelitianya ke arah penguasaan teknologi yang terkait dengan industri material metalurgi dari hulu sampai hilir.
Seminar Material Metalurgi 2008 merupakan suatu upaya awal dalam rangka peningkatan kompetensi para peneliti dan mensinergiskannya dengan kebutuhan-kebutuhan industri yang up to date. Seminar Material Metalurgi dihadiri oleh para peneliti dan praktisi dari berbagai instansi penelitian, perguruan tinggi dan industri.
Rencana Kegiatan
Keynote Speaker
Dr. Ir. Abdul Wahid, M.Sc. (Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi dan Sumber Daya Industri, DEPPERIN)
Prof. Dr. Ir. Johny Wahyuadi S., DEA. (Direktur Politeknik UI, Dosen FT-UI
)
Presentasi Ilmiah
Makalah-makalah yang dipresentasikan diputuskan berdasarkan seleksi terhadap abstrak lengkap (extended abstract) yang masuk. Hasil seleksi akan diberitahukan kepada peserta maksimal satu minggu setelah penyerahan abstrak.

Poster
Makalah yang tidak termasuk dalam daftar makalah yang dipresentasikan akan dipamerkan pada sesi poster.
Diskusi Panel
Pada sesi akhir setelah presentasi ilmiah akan dilakukan diskusi panel berkaitan dengan tema seminar. Acara ini akan menampilkan panelis dari perwakilan Instansi Penelitian, Perguruan Tinggi dan Industri.
Ruang Lingkup Makalah
1. Pengolahan Mineral dan Metalurgi Ekstraksi2. Teknik Produksi dan Rekayasa Material 3. Pengujian dan Karakterisasi Material4. Pemodelan dan Simulasi Material/Metalurgi 5. Analisa Kegagalan Material6. Korosi
Publikasi Ilmiah
Semua makalah yang masuk akan diperiksa oleh editor dan yang memenuhi persyaratan akan diterbitkan di Majalah Metalurgi edisi khusus bulan Pebruari 2009 (Akreditasi No. SK 38/AKRED-LIPI/P2MBI/9/2006). Makalah yang tidak dapat diterbitkan di Majalah Metalurgi akan diterbitkan di Prosiding Seminar.
Pelaksanaan Seminar
Hari/Tanggal: Kamis/18 Desember 2008Waktu: Pkl.08.30 s.d. 16.00Tempat: Graha Widya Bakti DRN, Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang 15314
Tanggal-Tanggal Penting
5 Desember 2008:Batas akhir pendaftaran dan pemasukan abstrak lengkap (extended abstract)
12 Desember 2008:Batas akhir pemasukan makalah lengkap
Ketentuan-ketentuan
Abstrak Lengkap (Extended Abstract)
Abstrak dibuat dalam ukuran B5 terdiri dari judul, nama dan afiliasi, isi abstrak dan kata kunci.
Semua huruf memakai jenis Times New Roman.
Judul memakai Font 12 Bold
Nama, afiliasi dan alamat, isi dan kata kunci memakai Font 10
Isi menggunakan spasi tunggal, memuat kurang lebih 400 kata
Abstrak harus memuat latar belakang, tujuan penelitian, prosedur percobaan, hasil percobaan, pembahasan, prospek dan tindak lanjut
Sertakan satu buah gambar yang mewakili hasil percobaan
Abstrak dibuat dalam bentuk berkas .doc dan dikirimkan ke alamat e-mail: seminar@metalurgi.lipi.go.id atau diserahkan langsung ke sekretariat
Makalah Lengkap
Makalah ditulis dalam ukuran A4 menggunakan 2 spasi.
Makalah terdiri dari Judul, Nama, Afiliasi Dan Alamat, Abstrak, Kata Kunci, Pendahuluan, Teori Dasar (jika ada), Percobaan, Hasil Percobaan, Pembahasan dan Kesimpulan dan Saran.
Panduan lengkap penulisan makalah dapat diunduh di sini.
Makalah dibuat dalam bentuk berkas .doc dan dikirim ke alamat email seminar@metalurgi.lipi.go.id atau diserahkan langsung ke sekretariat.
Poster
Poster harus dibuat sendiri oleh peserta dalam bentuk hard-copy dan diserahkan ke panitia selambat-lambatnya pada saat sebelum acara seminar dimulai pada tanggal 18 Desember 2008.
Poster dibuat pada kertas ukuran A1 posisi portrait atau enam buah kertas ukuran A4 posisi landscape memuat informasi yang lengkap terhadap isi makalah secara keseluruhan.
Poster terdiri dari Judul, Nama dan Afiliasi, Abstrak, Pendahuluan, Percobaan Hasil Percobaan, Pembahasan, Prospek dan Tindak Lanjut.
Pendaftaran
Peserta pemakalah dan peserta pendengar tidak dipungut biaya atau GRATIS. Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengisi FORMULIR PENDAFTARAN atau datang langsung ke sekretariat.
SekretariatPusat Penelitian Metalurgi - LIPIKawasan PUSPIPTEK Gd. 470, Serpong, TangerangTelp. 021-7560911, Fax. 021-7560553Email: seminar@metalurgi.lipi.go.idIndah (021-92374944), Arini (08159456011)

Ayo kurangi budaya plagiat saat menulis karya ilmiah..!!!!

Saya masih teringat saat masih menjadi mahasiswa S1 di suatu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Saya mendapatkan tugas kecil untuk menulis karya tulis kecil. Dikarenakan waktu tegat yang terbatas maka saya mencari solusi singkat dan instant dengan cara metode “copy & paste”. Metode ini cukup ampuh dan relative cepat. Ini akan lebih efektif kalau makalah atau sumber menggunakan bahasa Indonesia. Saat makalah atau sumber berbahasa inggris, kita harus menerjemahkan kemudian “paste” secara total ke tulisan kita, begitu mudah bukan???.
Kemudian kalau kita telaah lebih jauh, apakah ini dibenarkan ???, Ya, jawabannya pasti “tidak dibenarkan”. Cara di atas merupakan bagian dari “penjiplakan hak karya intelektual” atau plagiat. Plagiat atau penjiplakan tanpa menyebutkan sumbernya sering terjadi di lingkungan mahasiswa. Ini berdasarkan pengalaman saya lho…!!!
Memang tidak ada sanksi dari para “plagiator”, namun secara etika moral disalahkan. Tiadk dibenarkan kita menjiplak hasil karya orang lain tanpa menyebutkan nama dan sumbernya.
Jika kita ingin menulis karya tulis ilmiah, para mahasiswa/I biasanya membuat tinjauan /review dengan mengambil lebih dari satu sumber karya tulis ilmiah orang lain. Kita harus menempatkan hasil karya tulisan orang lain dalam bentuk “footnote” (catatan kaki) di halaman. “Footnote” diletakkan di bawah “body content” tulisan dengan ukuran huruf lebih kacel dari “body content” tulisan. Umumnya berupa kutipan-kutipan dari sumber. Salah satu lagi rekan-rekan mahasiswa/i yang perlu diingat bahwa setiap kalimat-kalimat yang kita akan pakai walaupun tidak dikutip alias pakai kalimat kita sendiri diharuskan untuk mencantumkan sumbernya di bab “daftar pustaka atau referensi”.
Salah satu manfaat kita mencantumkan sumber-sumber ditulisan kita selain kita tidak dicap sebagai “plagiator” yaitu dapat memperkuat analisa atau pembahasan tulisan saat kita mengungkap data-data yang tersedia.
Jika didalam dunia penelitian, istilah “plagiator” merupakan suatu hal yang tidak baru dan harus selalu diingat serta dipahami oleh setiap peneliti saat menulis hasil karya tulis ilmiah. Di luar negeri khususnya Negara maju (developed country), setiap unsur plagiat akan ditindak tegas, biasanya kalau didunia akademisi (universitas), mahasiswa yang ketahuan melakukan penjiplakan akan langsung di “DO” (Drop Out) tanpa basa basi. Bagaimana dengan didunia pendidikan kita ????. Silah masing-masing menginterpretasikan.
Umumnya nih rekan-rekan mahasiswa/i, saat kita mau menulis skripsi khususnya Bab II (dasar teori) biasanya kebingungan dalam penuangan materi ke laporan. Biasanya kita melihat laporan skripsi pendahulu kita yang hampir sama tema skripsi kita kemudian kita kopi habis-habisan tanpa tersisa alias mirip. Dosen-dosen umumnya hanya geleng-geleng kepala karena kalimat-kalimat di bab dasar teori setiap bimbingan mereka hampir sama.
Mungkin saat mahasiswa masih dimaklumi (tanda kutip), namun jika didunia penelitian baik sebagai dosen atau peneliti sangat-sangat diharamkan untuk melakukan itu”
Ok Guys, thas’s the fact of life, don’t be a follower but the trend setter.

Sekilas bagaimana menulis laporan skripsi yang baik

Saat kita menulis karya tulis ilmiah, permasalahan struktur kalimat yang benar perlu harus diperhatikan oleh kita bersama. Struktur kalimat harus mempunyai tiga komponen dasar yang harus ditulis. Komponen –komponen tersebut yaitu subjek, predikat, dan objek. Kata keterangan (tempat, waktu, cara, dan lain-lain) juga ditambah di belakang objek atau didepan subjek.
Kalimat umumnya dibagi dua jenis yaitu kalimat tunggal dan kalimat majemuk.
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu subjek dan satu predikat secara fakultatif ditambahkan objek –predikat transitif- yang mengungkapkan satu gagasan utama. Kalimat majemuk adalah gabungan kalimat tunggal atau sebuah kalimat tunggal yang salah satuunsur kalimatnya diperluas sehingga membentuk kalimat baru (Rasyid Saruni, Maharani Press,1996).
Sebagai contoh kalimat yang secara struktur kurang pas dan isinya membingungkan pembaca. Saya mengambil kalimat dari kutipan salah satu makalah di buku prosiding seminar.

“ Ketahanan logam Titanium di lingkungan air laut, disebabkan karena logam Titanium mempunyai kemampuan membentuk senyawa oksida yang stabil dan protective terhadap serangan korosi”

Mari kita lihat pelan-pelan…………

Kata “Titanium”, huruf depan tidak boleh huruf besar. Kata depan boleh huruf kapital jika di awal kalimat.
Penggunaan tanda baca koma (,) diletakan untuk menandakan hubungan antara induk kalimat dan anak kalimat
penggalan kata-kata “….disebabkan karena….”memiliki makna berganda. Kata sambung “karena” menghubungkan antara induk kalimat dan anak kalimat untuk perihal sebab akibat. Kata kerja pasif “disebabkan” menjelaskan sebab. Penggalan kata-kata tersebut harusnya “….disebabkan oleh….”
Terlalu banyak kata sambung “karena, yang, dan”. Umumnya kita menulis kalimat panjang dengan memperbanyak kata-kata sambung.
Kata bahasa asing tidak dibenarkan untuk digunakan dalam kalimat kalau sudah diterjemahkan dan dibuat kata baku bahasa Indonesia. Kata “protective” bisa diganti “protektif”

Kalimat penggalan makalah di prosiding dapat diubah oleh versi saya yaitu :

“Ketahanan logam titanium di lingkungan air laut disebabkan oleh kemampuan logam tersebut untuk membentuk senyawa oksida yang stabil dan protektif terhadap serangan korosi”.

Ok, terima kasih atas perhatiannya. Kalau kurang sempurna atau salah penjelasannya, silahkan ke ahli bahasa. Saya hanya berdasarkan pengalaman menulis.

Kamis, 30 Oktober 2008

Pendeteksian awal visual Aluminium teranodizing dengan larutan kimia sederhana

Secara fisik/kasat mata tidak bisa membedakan permukaan dan warna antara aluminium yang teranodizing dan aluminium tidak teranodizing kecuali orang-orang yang berkecimpung dibidang material.
Aluminium proses anodizing sangat penting untuk mengurangi kontak dengan lingkungan korosif dengan membentuk layer-layer Al2O3 yang pekat melalui proses tertentu.

Saat waktu luang kerja, saya iseng-iseng untuk mencoba mencanmpur larutan kimia. Saya cukup berhasil dilaboratorium menemukan formula larutan kimia relatif sederhana ( masih taraf pengembangan melalui variasi konsentrasi). pengembangan juga bisa digunakan identifikasi awal grade baja tahan karat. Formulasi ini lebih dari dua senyawa kimia, namun tidak bisa dipublish karena masih taraf pengembangan dengan kemungkinan identifikasi lainnya dengan hanya formula tersebut.

keterangan singkat :
Jika kita oleskan di bagian aluminium teranodizing tidak menimbulkan reaksi apa-apa (bersih di permukaan)
Jika kita oleskan di bagian aluminium tidak teranodizing seperti Al murni dan Al Paduan dengan waktu tertentu akan menimbulkan buih kehitaman dan berbekas
Jika bagian aluminium teranodizing mengalami kerusakan lapisan hingga tembus ke bagian Al murni akan mengalami proses buih di bagian rusak.

Bagaimana apakah tertarik untuk pemakaian dan pengembangannya ???

trims,

Minggu, 05 Oktober 2008

[INFO] pengujian korosi atmosfir logam di P2M-LIPI

Lembaga Pusat Penelitina Metalurgi Divisi Konservasi Bahan- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia merupakan lembaga independen terlengkap dibidang riset, pengembangan dan pengujian. Khususnya bagi Industri-industri yang bergerak dibidang material logam seperti logam bulk, logam lapis logam, logam dilapis lapis organik (cat).
Umumnya pengujian-pengujian ini untuk menguji daya tahan material terhadap kondisi atmosfer korosif. Pengujian-pengujian ini merupakan pengujain korosi yang dipercepat, artinya lingkungan sekitar dilakukan secara ekstrim.
Pengujian -pengujian yang umumnya dilakukan antara lain :
1. Pengujian kabut garam
2. Pengujian Humiditas
3. Pengujian UV
4. Pengujian mekanik dari material hasil cat.
5. dan lain-lain

Setelah pengujian, harus dievaluasi data-data yang ada, agar kita tahu diposisi mana kondisi material tersebut dikatakan rusak, artinya dari data kuantitatif harus dikualitatifkan. misalnya apakah material ini "tidak korosi", "korosi menengah" atau "korosi hebat" dsb.

Tentunya oleh Tim pengujian ini merujuk ke standar Uji internasional misalnya ASTM, JIS , ISO dan lain-lain baik pengujian atau evaluasi. Kadang-kadang dari pelanggan industri memberikan standar uji mereka sendiri, dan Tim pengujian selalu siap melayani.

"Mengapa harus jauh-jauh dan mahal untuk pengujian korosi atmosfer ke instansi -instansi lain, datanglah kepada lembaga P2M-LIPI sebagai lembaga independen terpercaya"

Silahkan hubungi :
P2M-LIPI
Kawasan PUSPIPTEK Gd.474 Serpong Tangerang
Telp : 021-7560911
Fax : 021-7560553

Selamat Hari raya Idul Fitri 1429 H

Saya sebagai moderator Blogger "LOGAM DAN E-BOOK" mengucapkan

Taqaballahu Minna waminkum, Shiyamana Washiyakum, Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin.

Jika ada kata-kata yang salah baik disengaja maupun tak disengaja, saya minta maaf sebesar-besarnya.

Amin.

Sabtu, 09 Agustus 2008

Berita contoh akibat material logam terkorosi 2008


Tiang Besi Rambu Busway yang Jatuh Sudah Berkarat Rachmadin Ismail - detikNews




Jakarta
- Dua petugas Transjakarta akhirnya datang dan menyingkirkan rambu busway yang jatuh di Jl Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Arus lalu lintas di sekitar lokasi kejadian pun berangsur normal.

"Tadi lagi ada acara," ujar salah seorang di antara mereka saat ditanya mengapa baru datang membenahi rambu tersebut, Sabtu (9/8/2008).

Dibantu Aiptu Mustakim, petugas Polantas yang sedang berdinas, dua pegawai TransJakarta itu menggotong rambu yang jatuh ke pinggir jalan.

Keduanya juga enggan berkomentar mengenai sebab-sebab jatuhnya rambu tersebut. Namun jika dilihat dari kondisinya, rambu tersebut jatuh karena rapuh terkena karat. Warna besi pada bagian yang patah memang terlihat coklat kehitaman.(djo/djo)

sumber : www.detik.com
Sabtu, 09/08/2008 14:17 WIB

Minggu, 27 Juli 2008

Fungsi Blog di mata peneliti

Blog Merupakan sarana atau media untuk menyampaikan informasi melalui teknologi informasi. Informasi sangat penting untuk melakukan kegiatan secara terarah dan sistematik sehingga output optimal tercapai
Tugas kami
melaksanakan kegiatan penelitian, pembinaan dan peningkatan kemampuan masyarakat umum dan industri, serta mendayagunakan hasil penelitian di bidang material metalurgi melalui media Blog ini.

LIPI EXPO 2008

100 tahun Kebangkitan Nasional : Gelar 100 Invensi

Era Globalisasi saat ini ditandai dengan makin meningkatnya persaingan ekonomi, membanjirnya barang dan jasa berteknologi baru dari negara-negara industri. Rendahnya kemampuan mengembangkan kapasitas iptek di dalam negeri, terutama yang berkaitan dengan industri strategis bagi bangsa Indonesia dalam bidang pangan, energi, transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, pertahanan, kesehatan dan obat-obatan menjadikan Indonesia di bawah pengaruh negara-negara maju. Untuk itu perlu dibentuk kesadaran publik secara luas akan pentingnya Indonesia membangun kemampuan sendiri untuk memenuhi kebutuhan nasional melalui pengembangan kapasitas iptek.

LIPI mempunyai tiga tanggung jawab, yaitu tanggung jawab kepada masyarakat akademia, tanggung jawab kepada stakeholders, dan tanggung jawab kepada masyarakat secara luas. Tanggung jawab terhadap stakeholder perlu diberi perhatian khusus, terkait adanya kepentingan timbal balik, guna memperoleh kemampuan yang lebih baik dalam melaksanakan kedua tanggung jawab lainnya. Dalam rangkaian proses pelaksanaan kegiatan kompetitif LIPI, dilakukan suatu tahapan evaluasi atas prestasi yang telah dicapai. Capaian prestasi unggulan tersebut diharapkan dapat menambah kepercayaan masyarakat dan stakeholders kepada LIPI terhadap penelitian yang dilakukan.

Pengukuran kinerja lembaga ilmiah, khususnya LIPI, dari sudut sumbangan ilmiah yang dihasilkan dalam suatu kurun waktu tertentu penting untuk ditampilkan. Penampilan hasil akan dapat memberikan pemahaman peran penting temuan dan terobosan ilmiah dalam memberikan landasan solusi pemecahan masalah yang dihadapi suatu bangsa berdaulat dalam cakupan sistem ekonomi, ekologi, sosial maupun budaya.

Dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, 10 windu Sumpah Pemuda, 10 tahun Reformasi, dan Ulang Tahun LIPI ke 41 pada Agustus 2008, LIPI akan memaparkan hasil-hasil kegiatan penelitian dalam kurun waktu 2003-2007 yang dikemas dalam satu rangkaian gelar Expo. Gelar Expo yang rencana dibuka oleh Wakil Presiden RI diharapkan dapat masukan dari para stakeholders, baik dari kalangan cendekiawan, industriawan, maupun masyarakat.

GELAR 100 INVENSI
4-6 Agustus 2008
Puri Agung, Hotel Sahid, Jakarta


Sumber : http://intra.lipi.go.id/masuk.cgi?pengumuman&&&&2008&&1216709460

Jumat, 25 Juli 2008

Review of Stress Corrosion Cracking on SS

Generally austenitic stainless steels are susceptible for Stress Corrosion Cracking (SCC). The SCC of them (type 316 and type 304) was extensively investigated as functions of applied stress (σ), sensitizing temperature, sensitizing time, applied potential and environmental factors ( inhibitor, sensitizing time, pH, anion concentration, anion species and test temperature) by using a constant load method [1]. The change in the mechanism for SCC on AISI 304 austenitic stainless steel was investigated in 42wt% boiling saturated magnesium chloride solution by using a constant load method. Three parameters (time to failure; tf steady-state elongation rate ; iss and transition time at which a linear increase in elongation to deviate; tss) obtained from the corrosion elongation curve showed three regions ; stress – dominated, stress corrosion cracking dominated and corrosion – dominated regions [2]. AISI 304 are prone to microstructural changes when exposed to sensitization temperatures due to heat treatment. Precipitation of chromium carbide takes place along the grain boundary regions in the temperature range of 480oC to 815oC. These results in chromium depletion near the grain boundary, and the resultant grain –boundary region is susceptible to intergranular corrosion (IGC)[3]. The extent of which depends upon the degree of sensitization. The Cr depletion zone, while the Cr carbide would serve as an barrier of dislocation movement [4]. Nishimura demonstrated that the most severe SCC susceptibility took place at a sensitizing temperature of ~931 K (6600C) in hydrochloric acid solution[5]. Deformation of metastable austenite phase involves the formation of strain –induced ε α’-martensite[6]. Austenitic stainless steel can undergo phase transformation due to applied stress or hydrogen charging.

Reference:
[1] Rokuro Nishimura, Characterization and perspective of stress corrosion cracking of austenitic stainless steels (type 304 and type 316) in acid solutions using constant load method, Corrosion Science 49 (2007) 81–91
[2] O.Alyousif, R.Nishumura, The stress corrosion cracking behavior of austenitic stainless steels in boiling magnesium chloride solutions, Corrosion Science 49 (2007) 3040–3051
[3] Raghuvir Singh; B Ravikumar; A Kumar; P K Dey; I Chattoraj, The effects of cold working on sensitization and intergranular corrosion behaviour of AISI 304 Stainless Steel, Metallurgical and Materials Transactions; Nov 2003; 34A, 11; Academic Research Library pg. 2441
[4] G.E.Dieter, Mechanical Metallurgy. 2nd ed, McGraw-Hill 1976 p.195
[5] R Nishimura; I Katim; Y Maeda, Stress corrosion cracking of sensitized type 304 stainless steel in hydrochloric acid solutions- Predicting Time to failure and Effect of sensitizing Temperature, Corrosion; Oct 2001; 57, 10; ProQuest Science Journals.pg. 853
[6] Juho Talonen, Metallurgical and Materials Transactions; Feb 2005; 36A, 2; Academic Research Library pg. 421

Selasa, 22 Juli 2008

HUBUNGAN KANDUNGAN FASA DELTA FERRIT DAN KOROSI PADA LASAN BAJA TAHAN KARAT

ULASAN SINGKAT

Penyambungan logam dengan sambungan las merupakan bagian dari proses manufaktur yang sering diaplikasikan di dunia industri. Proses pengelasan merupakan penggabungan dua material atau lebih yang umumnya terdapat pada logam. Proses ini dilakukan dengan melelehkan benda kerja dan menambah material ”filler” untuk membentuk ikatan kuat antara logam. Dua hal yang harus diperhatikan dalam pengelasan baja tahan karat adalah memberikan kondisi bebas retak pada lasan ,dan menjaga lasan dan daerah ”heat-affected zone” (HAZ) memiliki sifat ketahanan korosi sama dengan logam dasar. Pengontrolan material ”filler”, input panas, permukaan lasan. dan menjaga prosentase delta-ferit di mikrostruktur lasan dapat meningkatkan ketahanan korosi [1].
Logam lasan baja tahan karat tipe austenit tipe 300 umumnya mengandung 2 – 10 % fasa delta-ferit agar supaya menghindari masalah retak akibat pembekuan[2]. Jumlah dan morfologi daerah delta-ferrite merupakan fumgsi rasio kimia lasan ( Creq/Nieq). Proses siklus pemanasan dan pendinginan cepat yang terjadi selama proses pengelasan mempengaruhi mikrostruktur dan komposisi permukaan lasan.[3]. Mikrosegregasi unsur krom dan molibdenum terjadi selama pembekuan dan pendinginan lasan pada baja tahan karat tipe 316. Proses mikrosgregasi ditemukan pada batas interfasa / [4,5].

Delta ferrite umumnya dikontrol untuk mencegah retak mikro pada lasan baja tahan selama pengelasan. Grafik untuk memprediksi prosentase delta-ferit dengan menggunakan diagram Schaeffler-DeLong . Delta-ferit mempunyai struktur bcc. Selama solidifikasi dan struktur bcc ditahan pada suhu ruangan. Delta ferit dikontrol oleh unsur krom, molibdenum, Niobium, silikon, nikel, karbon, nitrogen, mangan dan tembaga. Semakin tinggi prosentase delta-ferit, semakin mudah proses transformasi martensit terbentuk sehingga sifta keuletan rendah dan rentan retak.

Keberadaan delta-ferit pada lasan menyebabkan terjadinya korosi. Jika prosentase paduan delta ferit di bawah 2% cukup baik untuk fabrikasi namun paduan tersebut mengakibatkan retakan mikro selama pengelasan[6]. Pada proses pengelasan, keberadaan fasa ferit mempunyai kecenderungan membentuk fasa intermetalik getas seperti fasa sigma dibandingkan fasa austenit. Fasa sigma-ferit menyebabkan penggetasan di suhu ruang.Bentukan struktur mikro hasil lasan sama dengan pengecoran. Struktur memiliki bentuk dendrit kasar dengan ketidakhomogen kimia yang menyebabkan logam lasan bersifat anodik dan logam dasar bersifat katodik di lingkungan korosif. Keberadaan daerah anodik dan katodik memberikan kondisi korosi galvanik.

Kecenderungan terjadinya korosi batas butir terjadi di daerah HAZ (heat affected zone) dimana temperatur mencapai daerah austenisasi (>10500C). Korosi batas butir berhubungan dengan proses sensitasi di rentang suhu 425 to 815 °C. Proses sensitasi terjadi dengan pembentukan krom karbida di batas butir. Pembentukan karbida dihubungankan dengan kadar karbon di dalam baja tahan karat austenitik. Pendinginan secara perlahan setelah proses pengelasan memberikan kesempatan krom untuk bersegregasi ke batas butir dengan membentuk karbida sehingga proses sensitasi berlangsung. Proses pembentukan karbida maksimum pada suhu 6750C (12500F)[7]. Disisi lain jika dipanaskan kembali (reheating) untuk mengurangi tegangan sisa di kisaran suhu sensitasi, Kondisi sensitasi material akan terbentuk.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hira Ahluwalia, Improving corrosion resistance through welding, fabrication methods, The FABRICATOR®, 2003
2. F. C. HULL, weld. J. 46 (1967) 399s.
3. M. G. PUJAR, R. K. DAYAL, Microstructural evaluation of molybdenumcontaining stainless steel weld metals by a potentiostatic etching technique, JOURNAL OF MATERIALS SCIENCE 33 (1998) Hal. 2691
4. O. HAMMAR and U. SVENSON, Solidification and Casting of Metals, The Metals Society, London, 1979, Hal. 401.
5. R. A. FARRAR, Stainless Steels 84, the Institute of Metals, London, 1986 Hal. 336.
6. John C. Tverberg, The Role of Alloying Elements on the Fabricability of Austenitic Stainless Steel, Metals and Materials Consulting Engineers,Hal.4
7. J.D. Fritz, Effects of Metallurgical Variables on the Corrosion of Stainless Steels, Corrosion: Fundamentals, Testing, and Protection, Vol 13A, ASM Handbook, ASM International, 2003

Kamis, 10 Juli 2008

Kebingungan para pelaku usaha, apakah tipe logam dengan standar X sama dengan standar Y ???

Masalah yang sepele namun ini cukup penting kita telaah bersama, kadang-kadang para pelaku usaha yang berkenaan dengan komponen material logam sering bingung dengan penamaan standar material. Kadang-kadang ada pertanyaan misalnya apakah material tertentu standar internasional amerika sama dengan standar inggris ???. Kadang -kadang ada suplier yang bersikeras ingin standar material tertentu, namun sebenarnya ekuivalen /identik dengan standar lainnya.
Keidentikan/kesamaan ini dapat kita lihat dari komposisi kimia unsur, sifat -sifat material lainnya (fisik, mekanik, korosi, dan lain-lainnya)
Kemudian kita bisa cocokan ke referensi yang telah ada.

Peran pihak ke-3, misalnya Peneliti yang memberikan penjelasan dengan bukti, data dan keilmiahan untuk menjelaskan ke pelaku usaha tersebut.

KOROSI RETAK TEGANG MATERIAL STAINLESS STEEL AISI 304 DI LINGKUNGAN MgCl2

Stress Corrosion Cracking on Stainless Steel AISI 304 in MgCl2 Environmet

"This Research of Master degree Thesis was conducted in Research Center for Metallurgy- Indonesian Institute of Sciences from February to May 2008. I would to thank to Prof. DR. Johny Wahyuadi.DEA at University of Indonesia as a supervisor" and also my colleagues in order to succeed my research technically"

ABSTRAK

Baja tahan karat jenis austenitik AISI 304 mempunyai kerentanan terhadap korosi retak tegang di dalam larutan korosif klorida. Baja tipe ini juga rentan terhadap temperatur sensitasi antara 5800C – 8150C. Kerentanan tersebut jelas terjadi pada korosi batas butir. Batas butir mengandung krom karbida. Kombinasi antara internal material logam dan lingkungan memberikan efek korosi retak tegang. Lingkungan MgCl2 merupakan lingkungan korosif yang berperan dalam jenis korosi ini.
Pengujian korosi retak tegang dilakukan dengan metode beban konstan (creep) melalui beban 20 kg/mm2, 25 kg/mm2, 30,5 Kg/mm2, dan 40 Kg/mm2 di larutan 42wt% MgCl2 bersuhu 1060C. Perlakuan material dibagi dua yaitu anil 11000C, tahan 1 jam, kemudian celup cepat air dan tanpa anil. Kedua perlakuan tersebut disensitasi (6000C,7000C,8000C). Pengujian kualitatif karbida, pengujian komposisi bulk, larutan uji (AAS), pengujian kekerasan Vickers, metalografi (foto makro) dan pengujian SEM EDS dilakukan.
Hasil menunjukkan pengujian kekerasan vickers pada suhu sensitasi 7000C mengalami penurunan berkisar 152,06 Hv (anil 11000C) dan 199,1 Hv (non anil 11000C) dibandingkan suhu sensitasi 6000C dan 8000C. Tren sama juga terjadi pada pengujian SCC beban konstan, pada temperatur sensitasi 7000C, waktu patah (tf) lebih pendek dibandingkan suhu sensitasi 6000C & 8000C di dua kondisi material berbeda. Waktu patah tercepat pada beban 25 Kg/mm2 3 detik di kondisi anil 11000C,suhu sensitasi 7000C dan terlama pada beban 30,5 Kg/mm2 86400 detik di kondisi tanpa anil,suhu sensitasi 6000C. Laju pemuluran (iss) tertinggi pada beban 25 kg/mm2 4,80 mm/detik di kondisi anil 11000C,suhu sensitasi 7000C dan terendah pada beban 30,5 Kg/mm2 3.10-8 mm/detik di kondisi tidak anil 11000C.
Bentuk patahan SCC berbentuk intergranular (tidak dianil 11000C). Bentuk patahan transgranular dengan banyak struktur dimple (void-void) nampak banyak di material anil 1100 berbagai suhu sensitasi. Prosentase peningkatan kelarutan Fe kedalam larutan uji antara 484% hingga 2050% , Kation Cr antara 750% hingga 3540%, dan Kation Ni hingga 110%.

ABTRACT


Austenitic Stainless steel (AISI 304) has a susceptibility of stress corrosion cracking inside corrosive chloride solution. This material also is susceptible from sensitizing temperature (5800C-8150C). This susceptibility of material clearly is undergone in intergranular corrosion. Grain boundaries contain chromium carbide. The combination of internal material and environment can contribute a great effect of stress corrosion cracking (SCC). MgCl2 circumstance have main role for SCC as corrosive solution.
SCC test was conducted with constant load method (creep) of 20 Kg/mm2, 25 Kg/mm2, 30,5 Kg/mm2, and 40 Kg/mm2 in 42 wt% MgCl2 solution and constant temperature of 1060C. Material treatment is divided two sides : (1) annealing process (11000C); holding 1 hour then quenching process and (2) without annealing. These two treatments were sensitized at 6000C, 7000C and 8000C. The qualitative test of carbide, the test of bulk chemical composition, solution test (AAS), Vickers hardness test, metallography, and SEM EDS test conducted.
Test results show Vickers hardness value on sensitizing temperature of 7000C that was undergone the decreasing of range 152,06 Hv (annealing of 11000C) and 199,1 Hv (non annealing) by comparing sensitizing temperature of 6000C and 8000C. The same trend also was happen at the test of SCC. On sensitizing temperature of 7000C fracture time (tf) is shorter than sensitizing temperature of 6000C and 8000C in two different material conditions. The shortest fracture time is happened at load of 25 Kg/mm2 that is tf of 3 seconds in annealing condition of 11000C and sensitizing temperature of 7000C. The longest fracture time is also happened at load of 30,5 Kg/mm2 that is tf of 86400 seconds without annealing process and sensitizing 6000C. The Highest Elongation rate (iss) at load of 25 Kg/mm2 is 4,80 mm/s in annealing condition of 11000C for sensitizing temperature of 7000C. The lowest one at load of 30,5 Kg/mm2 is 3.10-8 mm/s without annealing condition of 11000C.
The average shape of fracture of SCC is intergranular form without annealing process of 11000C. The shape of transgranular fracture with surface structure of dimples was undergone at annealing material of 11000C with various sensitizing temperatures. The increasing of dissolution percentage of Fe ions to test solution between 484% to 2050%, from 750% to 3540% (Cr ion), and up to 110% (Ni ion).

Kamis, 12 Juni 2008

[E-Book] Buku saku gratis korosi logam untuk mahasiswa




Buku saku ini berhalaman 81 halaman merupakan dedikasi dan perhatian saya untuk rekan-rekan mahasiswa untuk mendapatkan informasi secara ringkas dan padat tentang bidang korosi logam.
Sejarah dari pembuatan buku singkat ini karena pekerjaan saya sebagai peneliti yang mengharuskan untuk membaca terus referensi-referensi dalam bidang riset sehingga beberapa kontent/isi seperti definisi, rumus-rumus korosi logam, tabel-tabel penting ilmu korosi, dan tabel konversi umum saya ringkaskan ke dalam buku kecil saya.

Insya allah bermanfaat bagi para rekan mahasiswa atau juga rekan industri lainnya

silahkan download di server download :

http://mihd.net/60nxqe3

Terima kasih atas kunjungan dan perhatian rekan-rekan.

Kamis, 05 Juni 2008

[INFO]Update Jurnal International bulan Juni 2008

Rekan-rekan semuanya
Pada Bulan Juni 2008, Akses makalah-makalah internasional dapat anda download secara full text (pdf file) di

www.proquest.com/pqdweb
Account ID : 0MSSFTBP4P
Password : flower

Silahkan masuk ke website-website tersebut, semoga bermanfaat untuk mahasiswa/i yang mencari makalah makalah internasional yang bermutu dan "up todate" .

Minggu, 01 Juni 2008

[INFO] Draft tulisanKu "Metode Klasik ASTM A262 deteksi Sensitasi secara kualitatif"

HUBUNGAN KOROSI BATAS BUTIR BAJA TAHAN KARAT TIPE 304 METODE ASTM A262 DAN TEMPERATUR SENSITASI

Intisari

Korosi batas butir terjadi pada material AISI 304 tersensitasi. Proses sensitasi terjadi akibat pembentukan senyawa kedua (Cr23C6). Dampak sensitasi pada AISI 304 dengan dan tanpa proses solution treatment (ST) berbeda. Pengujian kualitatif ASTM A 262 telah dilakukan untuk melihat keberadaan dan jejak senyawa karbida dengan variasi temperatur 600,700, dan 8000C. Pengujian kekerasan Vickers dilakukan untuk melihat perubahan sifat mekanik setelah perlakuan panas. Bentuk karbida di temperatur sensitasi 600oC berbentuk ”dual” (non ST) sedangkan ”step” (ST). Suhu 700 dan 800oC dengan kondisi ST dan non ST telah membentuk ”ditch” penuh. Nilai kekerasan terendah ada di kedua kondisi pada suhu sensitasi 7000C. Keberadaan α ‘martensit memberikan kerentanan terbentuk sensitasi pada material 304 tanpa kondisi ST di suhu sensitasi 600oC.

Kata Kunci :
Korosi batas butir, Baja Tahan Karat 304, Sensitasi, Karbida, perlakuan panas

Abstract

Grain boundary corrosion is undergone at sensitized AISI 304. Sensitizing process is undergone that caused the formation of second coumpound (Cr23C6). The effect of sensitization at AISI 304 with and without solution treatment (ST) is quite different. The qualitative test of ASTM A-262 was conducted to observe chrom carbide and its path on grain boundary with the variation of sensitizing temperature for 600,700, and 800oC. The Vickers hardness test was done to observe the change of mechanical properties after heat treatment. The shapes of carbide at sensitizing temperature of 6000C are classified as “dual” (non ST) and “step”. The temperature of 700 and 800oC with the various conditions of ST and non ST formed full “ditch” structure. The lowest value of hardness on both conditions is at sensitizing temperature of 700oC. The existence of α ‘martensite structure quite contributes the susceptibility of forming sensitizing condition at 304 materials without ST process at sensitrizing temperature of 600oC.

Keyword :
Grain boundary Corrosion, Stainless Steel 304, Sensitization, Carbide, Heat Treatment

Selasa, 06 Mei 2008

[INFO] Pengenalan Korosi secara umum

2.1. Tinjauan Umum

Korosi merupakan proses degradasi sifat material disebabkan reaksi dengan lingkungannya. Korosi sebagai suatu reaksi elektrokimia yang memberikan kontribusi kerusakan fisik suatu material secara signifikan sehingga perlu perhatian untuk mencegah dan meminmalisasi kerugian yang timbul akibat efek korosi [1]. Jumlah logam dan paduannya merupakan fungsi dari lingkungan sehingga saling mempengaruhi kedua parameter tersebut antara lain lingkungan air tawar, air laut, tanah, air laut [2].

Pendekatan korosi secara umum melibatkan sifat material antara lain sifat fisik, mekanik dan kimia. Pendekatan lainnya juga mempertimbangkan struktur logam, sifat lingkungan sekitar dan reaksi antara antar permukaan logam dan lingkungan [3]. Faktor-faktor pendekatan korosi yaitu :

· Logam. Komposisi, struktur atom, keheterogenan struktur secara microskopik dan makroskopik, tegangan (tarik, tekan dan siklus).

· Lingkungan. Sifat kimia, konsentrasi bahan reaktif dan pengotor, tekanan, suhu, kecepatan dan lain-lain

· Antar muka logam/lingkungan. Kinetika oksidasi dan pelarutan logam, kinetika proses reduksi bahan di dalam larutan, lokasi produk korosi dan pertumbuhan film dan pelarutan film.

Berdasarkan pertimbangan di atas mengindikasikan mekanisme korosi logam sangat komplek dengan melibatkan berbagai cabang bidang antara lain sifat fisik, metalurgi fisik, kimia, bakteri dan lain-lain.

Mekanisme korosi tidak terlepas dari reaksi elektrokimia. Reaksi elektrokimia melibatkan perpindahan electron-elektron. Perpindahan elektron merupakan hasil reaksi redoks (reduksi-oksidasi). Mekanisme korosi melalui reaksi elektrokimia melibatkan reaksi anodic di daerah anodik. Reaksi anodik (oksidasi) diindikasikan melalui peningktan valensi atau produk electron-elektron. Reaksi anodik yang terjadi pada proses korosi logam yaitu :

M -->Mn+ + ne

Proses korosi dari logam M adalah proses oksidasi logam menjadi satu ion (n+) dalam pelepasan n electron. Harga dari n bergantung dari sifat logam sebagai contoh besi :

Fe-->Fe2+ + 2e

Reaksi katodik juga berlangsung di proses korosi. Reaksi katodik diindikasikan melalui penurunan nilai valensi atau konsumsi electron-elektron yang dihasilkan dari reaksi anodic. Reaksi katodik terletak di daerah katoda. Beberapa jenis reaksi katodik yang terjadi selama proses korosi logam yaitu :

Pelepasan gas hydrogen : 2H- + 2e --> H2

Reduksi oksigen : O2 + 4 H- + 4e --> H2O

O2 + H2O4 --> 4 OH-

Reduksi ion logam : Fe3+ + e --> Fe2+

Pengendapan logam : 3 Na+ + 3 e --> 3 Na

Reduksi ion hydrogen : O2 + 4 H+ + 4 e --> 2H2O

O2 + 2H2O + 4e --> OH-

Reaksi katodik dimana oksigen dari udara akan larut dalam larutan terbuka. Reaksi korosi tersebut sebagai berikut :

NaCl.H2O

2 Fe + O2 Fe2O3

[INFO]Update Jurnal International bulan Mei 2008

Rekan-rekan semuanya
Pada Bulan Mei 2008, Akses makalah-makalah internasional dapat anda download secara full text (pdf file) di

www.proquest.com/pqdweb
Account ID : 39MJFGXVBG

Password : white

Silahkan masuk ke website-website tersebut, semoga bermanfaat untuk mahasiswa/i yang mencari makalah makalah internasional yang bermutu dan "up todate" .

Mohon berkenan untuk isi pooling dan pesan-pesan ya....

Minggu, 13 April 2008

[INFO]Update Jurnal International bulan April 2008

Rekan-rekan semuanya
Pada Bulan April 2008, Akses makalah-makalah internasional dapat anda download secara full text (pdf file) di

www.proquest.com/pqdweb
Account ID : 33BXM2TFNS

Password : pure

Silahkan masuk ke website-website tersebut, semoga bermanfaat untuk mahasiswa/i yang mencari makalah makalah internasional yang bermutu dan "up todate" .

Mohon berkenan untuk isi pooling dan pesan-pesan ya....


wass,

Senin, 24 Maret 2008

[INFO] E-Jurnal makalah ilmiah gratis dari negara brasil

Informasi E-Journal teknologi gratis dari negara Brasil


Rekan-rekan semua kebetulan saya sedang cari-cari literatur riset, ketemu jurnal gratis milik negara brasil, cukup bagus namun tidak dalam bentuk file adobe pdf tetapi html. Namun seluruh bodi halamannya mencerminkan suatu makalah ilmiah. Kelebihannya adalah makalah-makalahnya terbaru dan fresh
Silahkan rekan klik saja tanpa password di :

http://www.scielo.br

Prosedur pencarian :

1. Buka link di atas.
2. Lihat rubrik "article browsing" dan klik link " Search Form"
3. Kemudian masukan keyword yang berhubungan makalah anda
4. dan klik "Search"


Semoga terbantu ya rekan-rekan semuanya.
wass,

Minggu, 23 Maret 2008

Perubahan Mikrostruktur Baja Tahan karat AISI 304

(gambar 1. Baja tahan karat AISI 304 proses cold work)
Gambar 1 memperlihatkan adanya arah deformasi cold work ke arah horisontal sehingga butir-butir memanjang sesuai arah deformasi



(gambar 2. AISI 304 hasil full annealing 1200oC ditahan 1 jam, water quenching)

Gambar 2 memperlihatkan adanya perubahan fasa menjadi full austenit dan ukuran butir membesar. adanya "twinning" di dalam butir menggambarkan adanya bibit-bibit terjadinya fasa martensit saat akan dideformasi dingin


(Gambar 3. Baja AISI 304 tersensitasi Suhu 700oC ditahan 1 jam, furnace cooling)

Gambar 3 terlihat adanya karbida krom disepanjang batas butir dengan proses etsa eleltrolit asam oksalat. Ini merupakan bibit-bibit terjadinya proses intergranulat stress di media korosif